Rabu, 25 Februari 2015

Cara Jitu dan Ampuh Menjinakkan Hewan

Menjinakkan hewan merupakan salah satu cara dimana seseorang bisa membantu hewan dalam berkomunikasi, serta dapat memberikan hewan keleluasaan dalam berhubungan dengan manusia. Sehingga untuk menjinakkan hewan anda memerlukan beberapa tehnik yang sekiranya bisa membantu untuk menjinakkan hewan. Tidak usah panjang lebar, berikut ini cara untuk menjinakkan hewan versi Artikel Asli :

1. Dengan Doa

Beberapa sebab seseorang bisa membuat hewan merasa senang terhadap manusia adalah dengan doa yang diberikan. Doa tersebut bisa anda lakukan dengan berikut ini :

" Bismilahirohamannirohim..

Allahuma ya argaesya solitaseun .. ya siratama'u asma'u sami'un.. ya malikhun amalika... ya maliki malikun.. jara'ali jara'iya.. rainu jaradun asmakhaesa makhaeilmi silamun.. ya menamruhi ida... arada saenan ya'qullohu kunfayakun subkhan rabaka rabil'ijati 'ama yasifun.. wassalamu'alalmursolina walkhamdulillahi robbil alamin. "

Doa diatas dibaca didepan binatang yang dimaksud agar menjadi jinak. Setelah itu anda bisa menjadikan hewan tersebut sahabat yang anda cintai. Jika belum berhasil maka lakukanlah terus menerus sampai binatang yang anda miliki menjadi jinak dan senang dengan kehadiran anda.

2. Menghipnotis Kucing dan Sejenisnya

Jika anda memiliki hewan berkaki empat seperti kucing, kelinci, tikus putih dan sebagainya yang memiliki kaki empat dan mudah untuk diambil dan dibaringkan maka caranya adalah dengan membaringkan hewan tersebut dilantai atau meja dengan posisi terlentang atau menghadapt keatas setelah itu lakukan tehnik hipnotis dengan cara menarik telinga sampai menyentuh lantai atau meja kemudian tangan satunya menggerakan kaki kebelakang kelinci ke bawah . Ulangi bila perlu pertahankan selama 1 menit, maka tidak lama kemudian hewan tersebut akan terhipnotis. Untuk menyadarkan kembali anda hanya meniup hidungnya dan gulingkan badannya ke samping kiri atau kanan.

3. Menghipnotis Unggas

Seperti hewan yang memiliki sayap yaitu unggas seperti ayam, angsa, bebek dan sebagainya anda dapat melakukan dengan cara yang mudah, yaitu dengan membentangkan badan dan seluruh tubuh unggas tersebut di meja atau di lantai dengan posisi paruh sejajar dengan kaki atau ekor. Pastikan dalam melakukan ini anda jangan sampai menyakiti unggas tersebut. Pastikan tangan anda tidak menutupi mata unggas, kemudian lakukan tehnik hipnotis yaitu dengan cara menarik garis lurus 10 sampai 15 cm dari ujung paruh ke atas dan pastikan mata unggas mengikuti gerakan anda, hal ini anda bisa menunggu sebentar dan maka unggas tersebut akan tertidur.

4 Menjinakkan Hewan Liar

Ini adalah fase tersulit dari menjinakkan hewan, karena hewan yang satu ini termasuk hewan liar. Seperti musang, gajah, macan, singa, dan lain sebagainya. Cara ini adalah dengan beberapa

Cara Menjadi Lelaki Sejati Dimata Perempuan

Lelaki sejati merupakan pria yang tangguh dan kuat dalam menghadapi masalah. Lelaki pantang menyerah untuk mendapatkan apapun, karena lelaki akan memimpin keluarga sesaat setelah menikah. Sehingga lelaki itu seharusnya bisa menjadi panutan bagi perempuan. Lelaki sejati akan menghabiskan waktunya untuk bekerja demi perempuan yang dicintainya, sehingga hal ini menjadikan pandangan bagi perempuan untuk memilih siapa yang dapat memimpin calon keluarganya nanti.

Dimata perempuan, lelaki itu bisa mengubah apa saja sehingga perempuan selalu jatuh cinta kepada lelaki karena pengorbanannya. Perempuan menyukai lelaki yang melindungi harkat dan martabat perempuan, sehingga mereka lebih sering mencintai lelaki yang bisa diandalkan dan berkorban demi perempuan.

Ketika perempuan senang terhadap lelaki yang baik mereka akan merasakan getaran cinta, sehingga lelaki yang diinginkan akan tau bahwa perempuan tersebut menyukainya. Namun cara menjadi lelaki sejati dimata perempuan tidak dengan mudah begitu saja. Perempuan akan lebih memilih pria yang dapat mencintainya sepenuh hati dan tanpa ada gangguan dari siapapun.

Terkadang seorang perempuan lebih menyukai laki - laki yang lemah lembut, periang, bisa menentramkan jiwa, selalu tersenyum dan bisa mengatur moodnya. Tergantung dari situasi yang dirasakan seorang perempuan akan menyukai sesuatu hal yang menjadi favoritnya dari seorang lelaki. Sehingga perempuan akan jatuh cinta sepenuhnya saat lelaki mengatakan cinta kepadanya dengan suasana yang romantis.

Lelaki yang baik terkadang disukai perempuan dikarenakan sifatnya yang pendiam, misterius, dan sulit ditebak. Perempuan akan mencari sebagian besar hidup seorang lelaki yang memiliki kriteria tersebut hingga mendapatkannya. Sehingga hal ini dapat membantu laki - laki untuk mendapatkan perempuan yang diinginkan.

Dengan mengikuti alur cerita dan dengan apa adanya seorang perempuan melihat lelaki itu bisa mengisahkan masa lalu, masa depan ataupun sekarang. Hal tersebut bisa membuat perempuan mengerti dan memahami arti tentang lelaki sejati.

Cara menjadi lelaki sejati dimata pria bisa dilihat dari beberapa kriteria berikut ini :

1. Mendapatkan Jati Diri

Kemungkinan setelah umur yang bisa dikatakan mendapatkan jati diri adalah usia 18-22. Karena diusia tersebutlah usia normah yang bisa menyebabkan pendewasaan dalam berpikir seseorang. Laki - laki akan cenderung lebih lambat dalam proses berpikir dewasa daripada perempuan. Sehingga banyak perempuan yang menikah diusia muda dikarenakan sudah matang dalam memikirkan masa depannya.

Dimata perempuan sendiri lelaki yang sudah memiliki jati diri bisa dikatakan memiliki jati diri dan mendapatkan gelar pria sejati dari seorang perempuan. Karena cara berpikir dan pendewasaan dalam menghadapi masalah sudah sangat matang dan hal ini dianggap pantas lelaki dijuluki sebagai pria sejati oleh perempuan.

2. Dewasa Dalam Berpikir

Laki - laki itu bisa berpikir dewasa ketika mendapatkan suatu masalah besar, hal ini sudah naluri alami dari setiap pria yang akan disebut sebagai pria sejati yang memimpin keluarga. Sehingga perempuan akan lebih menyukai pendewasaan dari seroang lelaki dengan perubahan yang dimilikinya.

3. Selalu Merasa Senang

Seorang lelaki walaupun ditimpa masalah seberat apapun mereka akan selalu merasa senang dihadapan perempuan. Hal ini adalah suatu cara dimana perempuan bisa menyebutnya pria sejati. Dan rasa senang itu akan menularkan kepada perempuan yang didekati lelaki tersebut, sehingga perasaan seorang pria menjadi berubah dengan mood positif.

4. Sabar

Kesabaran itu lebih cenderung dimiliki oleh seorang pria, sehingga mereka selalu disebut pria sejati karena mereka mengerti bahwa dengan rasa sabat akan menghasilkan perubahan yang baik bagi dirinya. Sehingga perempuan juga akan sangat menghargai pria yang memiliki rasa sabar.

5. Pantang Menyerah

Seorang pria dikenal dengan orang yang pantang menyerah dalam menghadapi apapun. Hal ini adalah kebanggan dari seorang perempuan terhadap pria. Karena dengan pantang menyerah dimiliki lelaki jantan, maka pria sejati itu akan disebutkan dengan cepat. Ketika lelaki berusaha dengan sekuat tenaga dan pantang menyerah dalam menghadapi apapun, pria tersebut akan dicap sebagai pria sejati oleh perempuan.

6. Menghargai Sesama

Wanita menyukai hal yang menghargai orang lain, sehingga hal inilah yang bisa menyebabkan seorang pria bisa berkenalan dengan wanita hanya dengan menghargai sesamanya. Dan perempuan tersebut akan menjadikan dirinya pria sejati yang memiliki panutan yang baik untuk masa depannya.

7. Tidak Mudah Emosi

Pria sejati memang sudah terbukti tidak pernah emosi terlalu tinggi. Mereka menggunakan akal dan pikirannya untuk memikirkan masa depan yang lebih baik, sehingga perempuan akan menganggapnya sendiri bahwa pria sejati adalah pria dengan kesabaran yang tinggi.

Dalam mendapatkan seorang wanita maka sebaiknya menggunakan tehnik khusus yang bisa menyebabkan wanita lebih mencintai orang yang berada didekatnya. Hal ini mengakibatkan perubahan lingkungan dan fisik seseorang dalam merubah kebiasaan menjadi positif sehingga perempuan bisa menganggap pria sebagai lelaki sejati.

Cara Mencari Teman Baik

Teman baik merupakan orang yang pernah menjadikan jati diri kita sempurna. Teman baik dapat diartikan dengan sahabat, atau sahabat karib. Namun anda harus mengerti cara untuk memilih teman, mungkin artikel Cara Memilih Teman dapat membantu anda untuk memilih teman sepadan dengan anda. Atau anda dapat juga membaca Tips Disukai Teman karena Teman adalah Kekuatan.

Jika disadari teman merupakan salah satu orang yang paling berguna disaat susah dan senang. Bila anda rasakan teman ketika membantu anda dalam usaha apapun maka teman baik anda pasti tidak akan menuntut bayaran dari anda. Sebaliknya anda sedih ataupun bangkrut dalam menghadapi apapun maka teman baik anda pasti menyarankan untuk tetap tegar, sabar dan bertawakal.

Sahabat merupakan salah satu teman baik yang terus membantu anda dalam menghadapi kehidupan ini. Sehingga mereka adalah orang - orang yang pantas disebut sebagai pahlawan untuk keberhasilan anda. Sebaiknya anda mendapatkan teman baik atau tidak mendapatkan sesuatu yang anda inginkan. Karena teman baik membuat perubahan dalam hidup anda.

Disini anda akan belajar mengenai cara untuk mencari teman baik, yang sekiranya akan menjadikan diri anda tetap membuahkan hasil yang maksimal untuk kehidupan anda nantinya. Sesuai dengan keadaan anda dirumah, carilah teman baik dengan pemikiran anda.

Sesuatu yang anda pikirkan pasti akan mengarahkan diri anda ke hal yang telah anda pikirkan. Sehingga untuk mendapatkan sesuatu hal yang baik maka teruslah menjadi orang yang tenang menghadapai segala permasalahan didunia ini.

Karena teman baik bisa segala hal yang anda inginkan dan mereka cenderung setia kepada kawan. Sehingga hal ini adalah hal utama untuk membentuk perbaikan diri sendiri sehingga anda akan memperoleh kebaikan dalam kehidupan anda.

Cara mencari teman baik adalah sebagai berikut ini :

1. Ujilah Teman Anda

Jika anda menguji teman anda maka dengan baik dan benar. Ujilah dengan baik dan jangan menyakitinya. Jika anda menginginkan kesetiaan seseorang maka buatlah sebuah janji kesuatu tempat namun anda datang dengan terlambat. Jika dia memiliki reaksi bagus maka teman anda itulah yang akan menjadi sahabat anda, namun bila dia merasa menggerutu dan tidak dapat menerima maka jauhilah dengan perlahan.

Teman memang dapat membuat perubahan yang lebih baik, teman memang banyak memberikan inspirasi untuk perubahan sosial. Sehingga perlu anda uji dengan beberapa cara seperti menghindari agak lama ketika sudah menjadi sahabat baik. Bila reaksinya tidak berubah maka itulah teman baik yang dapat membuat perubahan dalam kehidupan anda.

2. Dekatilah Terus Menerus

Teman akan tetap bersama anda jika terus anda dekati setiap hari. Minimal anda bertemu seminggu 5 kali, karena dalam waktu seminggu itulah anda akan merasakan bagaimana perubahan yang akan anda alami untuk mencari teman baik. Sehingga hal inilah yang dapat membuat perubahan berpikir anda dalam menghadapi segala masalah dengan teman baik anda nanti. Teruslah dekati hingga teman anda menjadi suka bermain dengan anda.

Setelah anda mendekatinya maka teman anda akan baik dan tetap setia kepada anda. Dalam kesetiaan inilah anda diwajibkan untuk menjaganya, jangan sampai perasaannya menjadi berubah ketika anda menyelaraskan sifat yang buruk anda kepada sahabat atau teman baik anda. Berikanlah hal baik kepadanya dan jagalah pertemanan diantara anda sehingga persahabatan akan tetap langgeng selamanya.

3. Pahamilah Kehidupannya

Jika anda menginginkan teman yang ideal maka sebaiknya anda memahami apalah arti dari kehidupannya dengan berbagai cara yaitu seperti memberikan keinginannya supaya teman anda itu membuka seluruh isi kehidupannya dan berbagi kepada anda.

4. Ajaklah Berbuat Baik

Jika anda adalah sahabat yang baik untuk teman anda maka sebaiknya ajaklah ke sesuatu yang baik seperti Mengaji, Sedekah, Sholat dan sebagainya. Karena dengan berbuat baiklah anda akan merasakan kenikmatan dalam mencari teman baik. Sehingga ini disarankan untuk anda agar anda tetap menjadi teman yang terbaik untuknya.

5. Berikanlah Kebaikan Kepadanya

Untuk meyakinkan bahwa diri anda adalah orang baik untuk dirinya dan membuat citra anda kembali membaik maka sebaiknya berbuatlah baik kepadanya. Jangan ragu untuk memberikan senyuman, perbuatan baik, perkataan yang baik, makanan, atau sebagainya yang menunjukkan anda adalah orang yang baik. Namun semua itu harus anda lakukan dengan ikhlas karena dengan keikhlasan itulah yang membuat anda diberikan teman yang baik kepada anda.

6. Pilahlah Teman Anda

Jika anda sudah mengetahui siapa yang pantas untuk anda berikan kebaikan selanjutnya, maka teman yang pantas untuk anda adalah orang yang mau untuk anda ajak dan dirinya adalah orang yang sama pikirannya dengan anda. Bukannya pilih - pilih teman, namun demi kebaikan diri anda pilihlah orang yang tepat untuk masa depan anda dan memberikan hal terbaik kepada diri anda.

7. Jadikanlah Sahabat

Sahabat adalah orang yang selalu menemani dan memberi seluruh kehidupannya secara ikhlas dan tanpa ada rasa pamrih sedikitpun untuk mengembalikan. Sahabat adalah orang yang bisa memberikan contoh kepada sahabatnya sehingga memberikan hal tersebut awet untuk berdampingan bersama teman anda.

Pangerten Artikel

A. Pangerten Artikel
Artikel yaiku karangan nyata sing jangkep kanthi dawa tinamtu sing digawé kanggo disebaraké lumantar ariwarti (koran), kalawarti (majalah), buletin, lan sapanunggalane. Panulisan artikel ndarbèni ancas kanggo ngandharaké gagasan lan fakta sing bisa ngyakinaké, nggulawentah, lan nyenengake sing maca. Panulis Artikel yaiku pawongan kang nindakaké pakaryan ngarang sawijining tulisan, nggabungaké sawetara tembung dadi ukara kang wigati lan kepénak diwaca, saéngga nggawé wong kang maca ngrasakaké lan mangertèni apa kang sadurungé durung dimangertèni.
Panulis Artikel manéka werna kriteriané, yaiku :
v  Panulis Artikel Buku
v  Panulis Artikel pawarta
v  Penulis Artikel Marketing
v  Penulis Artikel Online
v  Panulis Artikel Narasi
v  Panulis Artikel Naskah
B.  Jinis-jinise Artikel :
1)    Artikel eksploratif, artikel kang nuduhaké fakta miturut kajian panulisané.
2)   Artikel eksplanatif, artikel kang isiné katrangan babagan sawijiné perkara kanggo dimangertèni sing maca.
3)   Artikel dhèskriptif, artikel kang nggambaraké babagan sawijiné pokok perkara kang kadadéyan ing masyarakat. Saéngga wong kang maca kaya weruh, ngrungokaké, lan ngrasakaké babagan kang ditulis.
4)  Artikel prèdhiktif, artikel kang isiné pètungan utawa ramalan babagan apa kang bakal kadadèn miturut pètungan panulis.
5)   Artikel preskriptif, artikel jinis iki mènèhi tuntunan marang pamaos supaya ora klèntu utawa kliru.
6)    Artikel naratif, kang kanthi prasaja naratif bisa diarani crita. Ing artikel narasi ana prastawa utawa kadadéyan ing sawijining wektu. Ing kadadéyan iku ana uga tokoh kang lagi ngadhepi masalah.
7)   Artikel eksposisi, artikel kang isiné panjlèntrèhan babagan sawijining topik kanthi ancas mènèhi tambahan èlmu kanggo wong kang maca.
8)  Artikel argumentasi, artikel kang nduwe ancas kanggo mbuktekake kabeneran sawijining panyaruwe utawa dhudhutan utawa alesan utawa bukti. Ing artikel argumentasi iki, pengarang ngarepake mbenerake panyaruwene saka wong kang maca.
9)  Artikel persuasi, artikel kang ancase kanggo mrabawani wong kang maca kanggo nindakake sawijining pakaryan

Rupa-Rupa Artikel :
1.   Artikel praktis
          Artikel praktis kaya pituduh-pituduh cara nggawe, dandani, lan migunakake piranti. Artikel praktis luwih nekanake keterampilan tinimbang  pangaweruhan utawa analisis kanggo masalah. panulisane luwih cocok nggunakake bentuk karangan narasi. artine, pesen disusun padha karo urutan wayah, kadadean, lan utawa tahapan-tahapan
2.   Artikel entheng
      Artikel entheng biyasane ngrembug masalah-masalah sing entheng ora mbutuhake pamahaman jero. Artikel mangkene ana ing jero rubrik-rubrik kalawarti remaja utawa ariwarti. Artikel entheng biyasa arupa wara-wara utawa lelipur. Macane uga ora mbutuhake gatekan lan konsentrasi kebak. Jenis artikel iki biyasane ana neng panggon umum kaya rumah sakit utawa stasiun
3.   Artikel Opini
Ana ing satemene, kabeh artikel iku opini, ananging artikel sing siji iki dipanggonke ana ing jerone ariwarti utawa kalawarti dipanggonake khusus opini kayata; karikatur, pojok, kolom, lan layang pamaca. Artikel opini biyasane ngoceki kanthi tuntas ngenani- masalah kanthi cara akademis. Mula saka iku, panulise kudu wong-wong sing bener-bener ahli ana ing bidhange. Conto artikel Opini yaiku guru ing jero pamulangan.
C.  Guna nulis Artikel
nulis Artikel tentu ora ucul saka guna nulise, apa wae guna nulis artikel ? guna nulis artikel yaiku dadi iki :
1. nyaka pangakon profesional saka kalangan profesinya.
2. njero panguwasan bidang elmu.
3. Memperlancar undhak-undhakan karir akademik utawa kalungguhanfungsionalnya.
4. Berpartisipasi jero penyebaran lan pengembangan elmu.
Karakteristik Artikel
manut AS Haris Sumadiria (2009:4) artikel nduweni pitu karakteristik:
1.    tinulis karo dhuwur jeneng (by line story);
2.    ngandung gagasan aktual lan utawa kontroversial;
3.    gagasan sing diangkat kudu ngusung kepentingan sakanggonan paling gedhe khalayak pamaca;
4.    tinulis sacara referensial karo visi intelektual;
5.    dicawiske jero basa sing urip, segar, populer, komunikatif;
6.    singkat lan tuntas; lan
7.    orisinal.

Tuladha ! 
                                  KENDHUREN, APA WIS AREP ILANG? 
                                                 Dening Arief Mulyana.  
           Saperangan  ahli  mastani,  agamane  wong  Jawa  sing  temenan  iku  sejatine  aran  Kendhuren.  Kendhuren,  ora  beda  pokoking  ngibadah.  Awit  kanggone  wong  Jawa,  kabeh  perkara kang ana gandheng cenenge karo lakuning urip, wiwit ceprot jabang bayi nganti  tekan  matine,  kalebu  prstawa  liyane,  kayata  nggawe  omah,  lulus  sekolah,  ketampa  nyambut  gawe,  kudu  diKendhureni.  Upacara  Kendhuren  mono  ancase  kanggo  nggayuh  kaslamatan. Muga Kendhuren uga kasebut slametan. Wong kang wus ngleksanani upacara  wujud  Kendhuren  mau,  adate  banjur  rada  ayem  lan  tentrem  atine.  Pancen  kabeh  mau  gumantung kepercayaan pribadine dhewe-dhewe.  
            Miturut  Herusatoto  (  1991),  Kendhuren  iku  kalebu  perangan  tindakan  simbolis  tumrape wong Jawa kanggo memuji lan  nggayuh kaslametan. Apa kang dadi tatacara,  ubarampe  lan  lakuning  upacara  Kendhuren  sejatine  mung  medhia  simbolis  kanggo  nglairake pepinginan utawa panyuwunan marang Dzat Kang Luwih  Kuwasa. Dadi, yen  ditelusuri  tenan,  Kendhuren  iku  kalebu  wujuding  ibadah  tumraping  wong  Jawa  kang  ngleksanani upacara mau, dadi kaya dene donga.  
           Sejatine kapan Kendhuren wiwit ditindakake dening wong Jawa? Tekan saiki ora ana  wong kang ngerti kanthi premati. Sing cetha, tradisi mau tinggalane para leluhur wiwit  kuna-makuna. Nalika para ahli nyiarake agama Islam ing tanah Jawa (abad 14-15), wujud  lan mantrane Kendhuren diowahi, diganti lan dicedhakake marang cara Islam. Mula sing  kaleksanan saiki, kabeh dongane adate nganggo donga-donga Islam saka Qur’an utawa  Hadist. Dadi Kendhuren saiki mono sejatine wis ora muni kaya jaman semana wis owah. 
Apa maneh jamane wis modheren kaya saiki. 
( Kapethik saka Kalawarti Sempulur No. 2 Edisi September 2002)

Menggambar Bentuk

Menggambar Bentuk

A. PENGERTIAN :

Arti Menggambar
Dalam ilmu bahasa kata menggambar berasal dari kata dasar gambar yang mendapat imbuhan awalan me-, dengan kata asalnya akan menimbulkan peristiwa persengauan atau mengalami proses nasalisasi. Sehingga kita dapat memahami bahwa kata menggambar dan kata gambar memiliki pengertian yang berbeda. Menggambar yang artinya kegiatan manusia membuat gambar, sedangkan yang dimaksud dengan gambar ialah hasil tiruan benda mati atau hidup.
Jadi, menggambar ialah semua kegiatan berkarya yang menghasilkan karya seni rupa dua dimensi (matra)l atau suatu karya seni rupa yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.

Arti Bentuk dan Sifatnya
Istilah bentuk dalam bahasa Indonesia dapat berarti bangun (Shape) atau bentuk plastis (Form). Setiap benda mempunyai bangun dan bentuk plastis. Bangun ialah benda yang polos seperti yang terlihat oleh mata sekedar menyebutkan sifatnya.

Menggambar bentuk 
Menggambar bentuk adalah menggambar dengan meniru bentuk objek alam atau obyek benda yang sebenarnya. Dengan Kata lain, pengertian Gambar bentuk adalah gambar yang dibuat sesuai dengan kondisi aslinya.

BENTUK DASAR BENDA
  • Kubus 
  • Balok 
  • Piramid/limas
  • Silinder/tabung 
  • Kerucut
  • Bola
Dalam bidang seni rupa, terdapat 2 (Dua) bentuk, yaitu:
  • Bentuk Figuratif (bentuk nyata sesuai dengan aslinya)
  • Bentuk Nonfiguratif (bentuk yang tidak nyata)
Selain itu, dapat juga digolongkan dalam:
  • Bentuk Abstrak, merupakan bentuk yang tidak nyata atau tidak meniru benda yang ada di alam
  • Bentuk Geometris, merupakan bentuk yang beraturan
  • Bentuk Non-geometris, merupakan bentuk yang tidak beraturan
  • Bentuk Stilasi, merupakan bentuk yang dihasilkan dari modifikasi bentuk hewan maupun tumbuhan. Contohnya pada batik.
  • Bentuk Visual Realistis atau Naturalis, bentuk yang ada di alam dan dibuat sesuai dengan kondisi aslinya.


B. PRINSIP-PRINSIP MENGGAMBAR BENTUK
  • Perspektif, merupakan prinsip menggambar sesuai dengan penglihatan. Objek gambar yang dekat digambar lebih besar, tinggi, dan jelas.
  • Proporsi, merupakan perbandingan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain secara menyeluruh
  • Komposisi, diartikan dengan susunan atau letak objek gambar yang menyatu
  • Gelap – Terang (Half – Tone). Bagian benda yang terkena cahaya akan tampak terang (putih atau warna muda). Sedangkan yang tidak terkena cahaya berkesan gelap (hitam atau warna tua).
  • Bayang – bayang (Shadow) untuk menunjukkan kesan tiga dimensi (realis).

C. LANGKAH-LANGKAH MENGGAMBAR BENTUK
  • Pengamatan : kegiatan mengenali objek yang akan digambar
  • Sketsa : gambar dasar (gambar yang belum jadi)
  • Menentukan gelap – terang dengan memperhatikan arah cahaya.
  • Menentukan teknik dengan menyesuaikan alat dan bahan yang digunakan. Bila menggunakan pensil gambar (warna), teknik arsir atau dusel lebih cepat. Dahulukan warna muda dan warna gelap tidak harus hitam.
  • Sentuhan akhir dengan memberikan penekanan pada karya gambar bentuk.
D. PENDEKATAN DALAM MENGGAMBAR BENTUK
  • Pendekatan Dengan Model, berarti dalam menggambar tersedia benda yang menjadi objek gambar. Keuntungan pendekatan dengan model:
  1. Objek gambar lebih jelas
  2. Ketepatan sudut gambar lebih terjamin
  • Pendekatan Tanpa Model, mempunyai arti bahwa kegiatan menggambar tidak disertai adanya contoh atau benda sebagai objek gambar.
E. TEKNIK MENGGAMBAR BENTUK
  • Teknik linear merupakan teknik menggambar dengan menjadikan garis sebagai unsur utama;
  • Teknik Blok merupakan cara menggambar dengan menggunakan satu warna;
  • Teknik Arsir merupakan cara menggambar dengan garis – garis sejajar atau menyilang untuk menentukan gelap – terang objek gambar sehingga tampak seperti Tiga Dimensi;
  • Teknik Dusel merupakan cara menentukan gelap – terang pada gambar dengan menggoreskan pinsil dalam posisi miring /rebah;
  • Teknik Pointilis merupakan cara menentukan gelap – terang dengan memberi titik – titik padat untuk bagian gelap dan titik – titik yang jarang untuk bagian yang agak terang;
  • Teknik Aquarel merupakan cara menggambar dengan menggunakan sapuan tipis pewarna cat air, sehingga hasilnya tampak transparan atau tembus pandang;
  • Teknik Plakat merupakan cara menggambar menggunakan bahan cat air atau cat poster dengan sapuan warna tebal, sehingga hasilnya tampak pekat dan menutup.
Teknik Linear
Teknik Arsir
  
Teknik Dusel
Teknik Pointilis
Teknik Plakat
Teknik Aquarel







Guru Idaman

Ki Hajar Dewantoro yang lahir pada 2 Mei 1899dan tiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), telah mengambarkan tentang sosok guru idaman nan ideal. Saya yakin kata-kata beliau tidak asing lagi di telingga kita. Menurut beliau seorang guru harus:

1. Ing Ngarso Sung Tulodho

Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah Akhlaq. Guru benar–benar harus bisa menjadi teladan dalam berakhlaq. Anak didik kebanyakan lebih percaya dengan gurunya daripada orangtuanya, karena guru dianggap tahu segala-galanya. Untuk itu segala tingkah laku, sopan santun guru akan menjadi panutan muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

2. Ing Madyo Mangun Karso
Kunci sukses kedua adalah Minat dan Semangat Belajar. Guru harus benar–benar menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri.
Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai.

Seorang bijak berpendapat bahwa tugas guru itu ibaratnya bercerita tentang enaknya ilmu dan membangkitkan selera anak untuk melahap ilmu tersebut. Keberhasilan tertinggi guru adalah jika mampu mengubah siswa yang mogok belajar menjadi siswa lebih pandai dari dirinya. Ini bukan tidak mungkin, karena otak anak dalam golden-age sedang otak gurunya sudah mulai telmi, waktu belajar anak lebih luas, sementara waktu belajar guru lebih terbatas, sumber belajar saat ini lebih banyak daripada sumber belajar ketika guru kuliah.

3. Tut Wuri Handayani

Kunci sukses ketiga adalah Pengasuhan dan Pengayoman. Guru harus benar–benar pengganti orang tua yang menerapkan Asah, Asih, Asuh, namun sekali lagi bukan dalam arti mengajar tapi mendidik.

Jangan Takut Menjadi Guru

Undang-Undang Guru dan Dosen mengajak kita percaya bahwa program kualifikasi, sertifikasi, dan pemberian beberapa tunjangan untuk guru akan meningkatkan kualitas guru dan secara otomatis mendongkrak mutu pendidikan. Tentu kita tidak percaya sepenuhnya. Mengapa? Karena ada satu hal yang sering kali terluput dari diskursus tentang rendahnya kualitas guru di Indonesia, yaitu soal birokratisasi profesi guru.

Birokratisasi profesi guru di zaman Orde Baru telah menghasilkan mayoritas guru bermental pegawai. Orientasi jabatan sangat kental melekat dalam diri para guru. Jabatan guru utama—sebagaimana layaknya guru besar di perguruan tinggi—tidak lagi dilihat sebagai tujuan puncak karier yang harus diraih seorang guru, melainkan lebih pada jabatan kepala sekolah atau jabatan-jabatan birokrasi lainnya di dinas-dinas pendidikan maupun di departemen pendidikan. Semangat profesionalismenya luntur seiring terjadinya disorientasi jabatan ini.

Birokratisasi juga menciptakan hubungan kerja "atasan-bawahan", yang lambat laun menghilangkan kesejatian profesi guru yang seharusnya merdeka untuk menentukan berbagai aktivitas profesinya tanpa harus terbelenggu oleh juklak dan juknis (petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis) yang selama ini menjadi bagian dari budaya para birokrat. Guru menjadi tidak kreatif, kaku, hanya berfungsi sebagai operator atau tukang dan takut melakukan berbagai pembaruan.

Rasa takut itu pada akhirnya semakin memperkokoh kekuasaan birokrasi dengan menjadikan guru sebagai bagian dari pegawai-pegawai bawahan yang harus tunduk patuh pada perintah "atasan". Guru yang berani mengkritik, apalagi memprotes tindakan "atasan" yang tidak benar, dengan mudah diperlakukan sewenang-wenang seperti diintimidasi, dimutasi, diturunkan pangkatnya atau bahkan dipecat dari pekerjaannya. Kasus mutasi Waldonah di Temanggung, kasus mutasi 10 guru di Kota Tangerang, kasus pemecatan Nurlela dan mutasi Isneti di Jakarta, serta beberapa kasus penindasan terhadap guru di berbagai daerah menunjukkan begitu kuatnya proses birokratisasi profesi guru sampai saat ini.

Proses yang sama terjadi pula sampai ke dalam kelas. Dalam proses pembelajaran, guru lebih menempatkan diri sebagai agen- agen kekuasaan. Ia memerankan dirinya sebagai pentransfer nilai-nilai ideologi kekuasaan yang tidak mencerahkan kepada anak-anak didiknya daripada membangun suasana pembelajaran yang demokratis dan terbuka. Anak didik dijadikan "bawahan-bawahan" baru yang harus tunduk dan patuh kepada guru sesuai juklak dan juknis atau atas nama kurikulum.

Kondisi ini semakin diperparah ketika proses birokratisasi ikut memasuki jejaring organisasi guru. Sebagian pengurusnya dikuasai oleh kalangan birokrasi. Akibatnya, organisasi yang diharapkan mampu membangun komunitas guru yang intelektual-transformatif dan melindungi gerakan pembaruan intelektual guru, justru jadi bagian dari rezim birokrasi yang "mengebiri" kemerdekaan profesi guru.

Penunggalan organisasi guru menjadi bagian dari agenda penguatan kekuasaan birokrasi yang tak terlepas dari kepentingan politik kekuasaan yang lebih besar lagi. Bisa dibayangkan, guru menjadi tidak cerdas dan tumpul pemikirannya justru oleh ulah organisasinya sendiri. Sungguh ironis!

Debirokratisasi

Program kualifikasi, sertifikasi, dan pemberian tunjangan kesejahteraan kepada guru jelas bukan jawaban satu-satunya untuk membangun kualitas guru. Tanpa disertai gerakan debirokratisasi profesi guru, sulit rasanya kesejatian kualitas guru akan terbangun.

Oleh karena itu, profesionalisme guru harus dibangun bersamaan dengan dorongan untuk membangun keberanian guru melibatkan diri dalam setiap pengambilan kebijakan pendidikan, bebas menyampaikan berbagai pandangan profesinya, mengkritik, bebas berekspresi dan bebas berserikat sebagai wujud kemandirian profesinya. Bagaimana semua itu dapat diwujudkan?

Beberapa pasal dalam UU Guru dan Dosen ternyata menjadikan debirokratisasi profesi guru sebagai bagian penting dari upaya peningkatan kualitas guru. Pasal 14 Ayat 1 Butir (i) menyebutkan: Dalam menjalankan tugas keprofesionalan, guru berhak memperoleh kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan.

Klausul ini mempertegas hak guru untuk terlibat dalam setiap pengambilan kebijakan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah sampai penentuan kebijakan pendidikan di tingkat provinsi maupun pemerintahan pusat. Guru tidak boleh lagi ditempatkan sebagai bawahan yang hanya menerima berbagai kebijakan birokrasi, tetapi harus duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang partisipatif.

Pada pasal yang sama Butir (h) disebutkan: Guru berhak memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi guru. Pasal ini diperkuat oleh Pasal 41 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Guru dapat membentuk organisasi profesi yang bersifat independen, juga Pasal 1 Butir (13) yang menyebutkan: Organisasi profesi guru adalah perkumpulan berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.

Ketiga pasal ini mempertegas kemandirian guru untuk bebas berorganisasi dan melepaskan diri dari kepentingan kekuasaan birokrasi. Pasal 1 Butir (13) mempertegas bahwa siapa pun yang bukan guru tidak dibenarkan mendirikan dan mengurus organisasi guru, seperti yang selama ini banyak dilakukan oleh birokrasi atau bahkan para petualang politik.

UU Guru dan Dosen juga memberikan perlindungan hukum kepada guru dari tindakan sewenang-wenang birokrasi, baik dalam bentuk ancaman maupun intimidasi atas kebebasan guru untuk menyampaikan pandangan profesinya, kebebasan berserikat/berorganisasi, keterlibatan dalam penentuan kebijakan pendidikan dan pembelaan hak-hak guru.

Pasal 39 Ayat 3 menegaskan bahwa guru mendapat perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi atau perlakuan tidak adil dari pihak birokrasi atau pihak lain. Ayat 4 pada pasal yang sama secara tegas memberi perlindungan profesi kepada guru terhadap pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi dan terhadap pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.

UU Guru dan Dosen cukup mendorong proses debirokratisasi profesi guru. Ruang kebebasan guru tanpa harus dibayangi ketakutan pada kekuasaan birokrasi kini mulai terbuka lebar. Birokrasi kekuasaan harus menerima perubahan paradigma yang ditawarkan undang-undang ini. Guru harus berani menempati ruang tersebut. Karena itu, jangan pernah takut lagi untuk menjadi guru yang kreatif!

Mengenal Kecerdasan Kita

Apa Kecerdasan Itu?
Kecerdasan dapat kita pahami sebagai kemampuan sesorang untuk melakukan sesuatu. Kemampuan manusia seringkali hanya diukur dari segi kognitif semata, yaitu hal-hal yang dapat diukur dengan angka.

Contoh mudahnya adalah bagaimana ketika anak-anak menerima buku rapor. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa anak tersbut cerdas, bilamana nilai-nilanya sangat membanggakan. Begitu juga sebaliknya. Atau lebih sempit lagi, pada usia dini kecerdasan hanya diukur dari kelancaran baca-tulis, kelancaran berbicara dan berhitung.

Kecerdasan atau kemampuan manusia sebenarnya sangat beragam. Dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
2. Kecersanan Emosional (Emotional Quotient)
3. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)

Mengapa selama ini hanya kecerdasan intelektual saja yang dibangga-banggakan oleh masyarakat dan diri kita?

Apakah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu tidak peting?
Lalu apa sebenarnya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu?

Kecerdasan Spiritual (SQ)
Merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan kita. Jadi SQ bukan hanya kemampuan menjalankan shalat atau membaca Al-Qur’an semata, tapi bagaimana semua ibadah yang kita laksanakan dapat dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan kita, artinya bagaimana perilaku kita adalah merupakan cerminan dari ibadah yang telah kita laksanakan. Sehingga kita menjadi manusia yang dicintai oleh Tuhan dan mahluk-Nya.

Kecerdasan Emosional (EQ)
Adalam kemampuan kita untuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.

Selama ini EQ kurang diajarkan pada anak-anak, sehingga kemampuan anak untuk mencinta dan dicinta oleh sesama menjadi kendala dalam bergaul dan berteman. Dan kesulitan dalam bermasyarakat berawal dari kurangnya kecerdasan emosional kita.

Kecerdasan Intelektua (IQ)
Ialah kemampuan kita untuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah, adalah kecerdasan intelektual. Kecerdasan inilah merupakan kemampuan yang diolah pada otak sebelah kiri kita. Bagaimana dengan otak sebelah kanan?

Mansusia siapapun dia, adalah manluk yang diciptakan Tuhan dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya, bahwa dia adalah mahluk-Nya. Pada saat ruh ditiupkan oleh Sang Pencipta, manusia dibekali dengan sifat-sifat yang mulia untuk bekal hidupnya. Sifat-sifat yang ditiupkan Tuhan itulah fitrah yang dibawa lahir di dunia. Jadi ketika manusia telah menjadi janin dan lahir di dunia ini dia telah memiliki fitrah yang suci, fitrah dari Tuhannya.

Oleh karena itulah fitrah manusia harus selalu dijaga agar tidak terkotori dan teracuni oleh sifat-sifat syaitan yang sering kita sebut dengan nafsu manusia. Yaitu: dengki, sombong, dusta, malas, berlebihan dan lain sebagainya. Namun kita sering menyebutnya itu adalah manusiawi. Sebenarnya hal-hal tersebut adalah sifat-sifat syaitan yang dikirim syaitan sejak manusia lahir ke muka bumi ini.

Mana Yang Harus Didahulukan?
Untuk menjaga fitrah, maka perlu dilakukan pengenalan kembali tentang siapa Tuhannya, bagaimana kita sebagai mahluk Tuhan harus menjalankan hidup di dunia ini, bagaimana agar kita dicinta oleh Tuhan. Itulah kecerdasan spiritual.

Dengan mengenal siapa Tuhannya dan bagaimana agar dicintai Tuhan serta mahluk-Nya. Maka karakter ini perlu dibentuk atau ditanamkan terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Dengan itu insyaallah, kita akan tahu bahwa kecerdasan yang kita miliki adalah untuk menjalankan perintah-Nya. Bukan untuk hal-hal yang akan membawa bahaya bagi diri kita, orang lain dan mahluk lainnya yang ada di sekitar kita. Bagaimana menurut Anda?

Interaksi Sosial

Sebagai makhluk individual manusia mempunyai dorongan atau motif untuk mengadakan hubungan dengan dirinya sendiri, sedangkan sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau untuk mengadakan interaksi. Dengan demikian maka akan terjadilah interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lain.

Pengertian interaksi sosial
Interaksi sosial adalah hubungan antar individu satu dengan individu lainnya. Individu satu dapat mempengaruhi yang lain begitu juga sebaliknya. (definisi secara psikologi sosial). Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadi karena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yang memiliki juga perilaku spesifik.

Di dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas, yaitu bahwa individu dapat melebur diri dengan keadaan di sekitarnya, atau sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.

Faktor-faktor dasar penyebab interaksi manusia
a. Faktor imitasi, imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain.
Menurut Tarde faktor imitasi ini merupakan satu-satunya faktor yang mendasari atau melandasi interaksi sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Gerungan (1966:36). Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi oleh sikap menerima dan mengagumi terhadap apa yang diimitasi. Untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang ikut berperan, sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalu orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang diimitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi terhadap apa yang diimitasi itu, karena itu imitasi tidak berlangsung dengan sendirinya. Contoh dari imitasi adalah bahasa; anak belajar berbahasa melalui peniruan terhadap orang lain selain itu mode-mode yang melanda masyarakat berkembang karena faktor imitasi.

b. Faktor sugesti, adalah pengaruh psikis yang diterima tanpa adanya kritik
Yang dimaksud dengan sugesti ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari diri sendiri, maupun yang datang dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari individu yang bersangkutan. Karena itu segesti dapat dibedakan (1) auto sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri, sugesti yang datang dari dalam diri individu yang bersangkutan, dan (2) hetero sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Misal sering seseorang merasa sakit-sakit saja, walaupun secara obyektif yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat saja terapi karena auto-sugesti orang tersebut merasa tidak dalam keadaan sehat, maka ia merasa tidak sehat. Contoh untuk hetero sugesti adalah misal dalam bidang perdagangan, orang mempropagandakan dagangannya sedemikian rupa, hingga tanpa berfikir lebih lanjut orang termakan propaganda itu, dan menerima saja apa yang diajukan oleh pedagang yang bersangkutan.

Imitasi dan sugesti peranannya dalam interaksi hampir sama besarnya, namun berbeda. Dalam imitasi, orang yang mengimitasi keadaannya aktif sebaliknya dengan yang diimitasi dalam keadaan pasif. Sedangkan dalam sugesti orang dengan sengaja dan aktif memberikan pandangan, norma dan sebagainya agar orang lain menerima.
Terjadinya proses sugesti mengikuti dalil sebagai berikut :
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila daya kritisnya dihambat. Orang yang kemampuan berpikirnya kurang atau kurang kritis akan mudah dipengaruhi. Daya kritis tersebut akan terhambat bila orang terkena stimulus yang bersifat emosional. Atau dalam keadaan fisik dan jiwa yang lelah. Misal orang yang telah berjam-jam rapat, ia sudah lelah baik fisik maupun psikologis , adanya keenganan untuk berfikir secara berat, sehingga biasanya dalam keadaan yang demikian orang akan mudah menerima pendapat, pandangan dari pihak lain, atau dengan kata lain orang yang bersangkutan akan mudah menerima sugesti dari pihak lain.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila kemampuan berpikirnya terpecah belah (dissosiasi). Orang mengalami dissosiasi bila orang itu dalam keadaan kebingungan sehingga mudah menerima pengaruh orang lain. Secara psikologis orang yang dalam keadaan bingung berusaha mencari penyelesaian karena jiwanya tidak tenteram sehingga mudah dipengaruhi oleh pihak lain.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila materinya mendapat dukungan orang banyak (sugesti mayoritas). Dalam dalil ini orang akan mudah menrima pandangan, nporma, pendapat dan sebagainya bila hal tersebut telah mendapatkan dukungan mayoritas.
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila yang memberikan materi adalah orang yang memiliki otoritas. Walau materi yang diberikan sama tetapi kalau yang memberikan berbeda maka akan terdapat pula perbedaan dalam penerimaan. Orang yang memiliki otoritas akan cenderung mudah diterima karena tingkat kepercayaan yang tinggi
Sugesti akan mudah diterima orang lain, bila pada orang yang bersangkutan telah ada pendapat yang mendahului yang searah. Bila dalam diri orang ada pendapat yang telah mendahului dan searah dengan yang disugestikan maka umumnya orang akan mudah menerima pendapat tersebut

c. Faktor identifikasii, adalah dorongan untuk menjadi identik (sama ) dengan orang lain. . Identifikasi adalah suatu istilah yang dikemukakan oleh Freud, seorang tokoh dalam psikologi dalam, khususnya dalam psikoanalisis. Contoh anak-anak belajar norma-norma sosial dari hasil identifikasinya terhadap orang tua mereka. Di dalam identifikasi anak akan mengabil oper sikap-sikap ataupun norma-norma dari orang tuanya yang dijadikan tempat identifikasi itu. Dalam proses identifikasi ini seluruh norma-norma, cita-cita, sikap dan sebagainyadari orang tua sedapat mungkin dijadikan norma-norma, sikap-sikap dan sebagainya itu dari anak sendiri, dan anak menggunakan hal tersebut dalam perilaku sehari-hari.

d. Faktor Simpati, merupakan perasaan tertarik kepada orang lain. Oleh karena merupakan perasaan maka timbulnya atas dasar emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik pada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Lawan dari simpati adalah antipati yaitu merupakan penolakan atau bersifat negatif. Sedangkan empati adalah kecenderungan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain (feeling with another person).

Teori-teori hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
a. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
b. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
c. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional)
Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

Pada interaksi individu menggunakan salah satu kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).

d. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagi suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.


Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.


A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI

Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)
Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
Iklim sekolah lebih demokratis.
Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).

B. SUMBER DAYA MANUSIA

Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
Peserta didik berani bertanya kepada guru.
Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.

C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR

Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
Ada sarana belajar yang bervariasi.
Digunakan beragam sumber belajar.

D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN

Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.

Metode Pembelajaran Efektif

Metode PembelajaranBelajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.


Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap siswa mendapat peran.
• Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

Model Examples Non Examples
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.
Baca Juga : Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)